PerDIK Kecam Oknum Satpol PP Bone yang Diduga Aniaya Difabel Didepan Anaknya

Direktur Eksekutif PerDIK, Abdul Rahman

Direktur Eksekutif PerDIK, Abdul Rahman.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Pengurus Pusat Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) meminta pihak kepolisian untuk profesional dalam menangani kasus dugaan penganiayaan salah satu penyandang disabilitas daksa kinetik, Andi Takdir, 30 tahun, oleh oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bone di Lapangan Merdeka Watampone, pada Sabtu (23/12/2017) malam.

Direktur Eksekutif PerDIK, Abdul Rahman mengatakan pihaknya mengecam tindakan arogansi oknum Satpol PP kepada Takdir yang juga Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bone. Mirisnya, kata dia, aksi pemukulan itu disaksikan langsung oleh anak korban yang masih dibawah umur.

“Kasus ini harus dibawah ke ranah hukum. Apa lagi pemukulan Takdir terjadi dihadapan anaknya yang masih dibawah umur. Ada anaknya baru diperlakukan begitu, bagaimana itu Satpol PP, ” kata Gusdur, sapaan Abdul Rahman ini dalam siaran persnya, Senin, 25 Desember 2017.

Gusdur juga menampik anggapan oknum Satpol PP yang mengatakan bahwa korban dalam keadaan mabuk saat berbicara dengan satuan pamong praja itu. Menurutnya itu tidak benar untuk seorang Ketua PPDI.

“Mana mungkin seorang Takdir meminum minuman keras dan dalam keadaan mabuk membawa anaknya jalan-jalan di lapangan Merdeka, ” tegas Gusdur, difabel penglihatan ini.

Gusdur juga meminta kepada Kepala Satpol PP Bone untuk melakukan evaluasi di internal satuannya itu. “Pihak kepolisian harus profesional dalam menangani kasus ini, karena Takdir sudah melaporkan penganiayaan itu kepada pihak polisi setempat, ” ujarnya.

Dilansir sejumlah media online di Sulsel, video kasus dugaan penganiayaan itu terhadap Takdir beredar di salah satu grup chatting, Telegram wartawan Bone. Dalam video itu oknum anggota Satpol PP memukul bagian kepala korban.

Kejadian ini bermula sekira pukul 22.15 Wita setelah Ketua PPDI Bone itu protes tindakan sejumlah anggota Satpol PP yang hendak membubarkan aktivitas menari yang dilakukan salah satu komunitas di Lapangan Merdeka Watampone.

Takdir yang kebetulan melihat aksi pengusiran itu, ikut membela. “Satpol PP melarang mereka karena dianggap merusak dan menganggu keamanan,” kata Takdir, kepada wartawan.

“Kemudian saya bilang bahwa apa yang mereka rusak? dan siapa yang mereka ganggu?, justru penonton merasa terhibur,” ceritanya.

Namun sejumlah oknum Satpol PP datang mengerumuni dan menendang bahkan memukuli bagian kepala Takdir.

Pasca kejadian, Takdir, langsung bergegas ke rumah sakit guna melakukan visum untuk kepentingan pelaporan ke pihak berwajib atas peristiwa yang dialaminya.(**)