Ditolak Masuk SMP Negeri 3, Hidayat Beri Rekomendasi PPDB ke Firman

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis online membuat Sumiati Deng Bollo (43) meneteskan air mata, warga Kampung Bayam, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate, Makassar. Dia tak kuasa menahan tangis kala anaknya yang ke 3 bernama Firman Bakri dinyatakan tidak lulus di SMP Negeri 3 Makassar.

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis online membuat Sumiati Deng Bollo (43) meneteskan air mata, warga Kampung Bayam, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate, Makassar. Dia tak kuasa menahan tangis kala anaknya yang ke 3 bernama Firman Bakri dinyatakan tidak lulus di SMP Negeri 3 Makassar.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Kesedihan Sumiati setelah anaknya ditolak di SMP Negeri 3 Makassar, dijawab oleh, Andi Hidayat, selaku Kapala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kota Makassar.

Ia mengatakan bahwa dalam hal ini pihak sekolah swasta maupun negeri, harus menjalankan fungsi sosial, untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang kurang mampu. Apalagi anak dari Sumiati bernama, Firman Bakri merupakan siswa yang cerdas dan berprestasi.

Bahkan, Andi Hidayat mengaku akan memberikan rekomendasi terhadap, Firman Bakri, untuk dapat bersekolah baik di sekolah swasta maupun negeri. “Cari sekolah swasta di selatan kota, saya yang rekomendasi,” tegas Hidayat, kepada awak media, Rabu 11 Juli 2018.

Tidak boleh ada pengecualian terhadap status siswa. Setiap sekolah harus menerima siswa yang berasal dari keluarga miskin atau pun keluarga prasejahtera. “Sekolah swasta harus mampu menjadi fungsi sosial. Harus juga mau menerima siswa yang status prasejahtera. Nanti saya yang bicara,” ungkapnya.

Hidayat, pun membeberkan bahwa baik sekolah swasta maupun negeri itu menerima dana bos dengan nilai yang sama. “Swasta itu menerima sama dana bosnya dengan sekolah negeri. Masa mereka tidak mau menerima siswa prasejahtera. Di mana fungsi sosialnya sekolah kalau tidak mau terima dia?” jelasnya.

Maka dari itu, Hidayat, berkata setiap sekolah tidak boleh menggunakan kata ‘sulit’ untuk menerima siswa prasejahtera. Apalagi sampai, ada oknum yang mengiming-imingkan kelulusan bagi siswa untuk meminta imbalan.(**)