Siswa SMP Yang Jual Narkoba di Makassar Jalani Konseling di P2TP2A

Koordinator Tim Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar, Makmur, saat ditemui di Sekretariat P2TP2A

Koordinator Tim Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar, Makmur, saat ditemui di Sekretariat P2TP2A,

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  AR (14), siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tertangkap saat hendak menjual narkoba jenis sabu, sedang menjalani konseling di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Makassar.

Hal ini diungkap oleh, Koordinator Tim Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar, Makmur, saat ditemui di Sekretariat P2TP2A, Sabtu 11 Agustus 2018.

“Setelah kami mengambil anak ini di Polsek Tallo, yang pertama kami lakukan adalah konseling. Anak ini, untuk bagaimana dia berubah mental mereka, supaya untuk kebaikan dirinya,” jelasnya.

Makmur, mengatakan bahwa AR mengalami tekanan secara mental. Hal itu tampak dari raut wajah dan perilaku AR yang tampak murung selama berada di P2TP2A. Tekanan yang dirasakan oleh AR, kata Makmur, bersumber dari informasi yang mengabarkan bahwa AR harus dipenjara dan di masukkanbke pusat rehabilitasi.

“Selama konseling ini kita lakukan di rumah aman P2TP2A, anak ini mulai bicara dan dia mulai satu persatu memberikan informasi dan sekarang anak ini sudah mulai ikut shalat, mengaji dan ikut bimbingan setiap jam 09.00 (WITA) pagi, tentang perubahan perilaku,” ungkapnya.

Berdasarkan penelusuran, AR memang tidak mendapatkan perhatian yang cukup di lingkup keluarga. Bahkan diketahui bahwa kedua orang tua AR saat inu mendekap di penjara atas kasus Narkoba.

Hal itulah yang menjadi salah satu ketakutan AR, bahkan ia terus mengatakan ‘Saya menyesal melakukan ini dan mudah-mudahan saya tidak dipenjara’ itu katanya.

“Dalam dua tiga hari ini dia sudah mulai bicara, dia terua mengulang tidak mau dipenjara dan dia juga bilang ‘saya mau sekolah kembali’ begitu,” jelasnya.

AR yang tinggal bersama neneknya juga tidak mendapat perhatian yang cukup. “Pola pengasuhan yang diberikan sama neneknya ini memang tidak berpihak, karena anak ini bebas keluar, tidak terkontrol sekolahnya, ini yang membuat dia terpengaruh,” ungkap Makmur.

Makmur berharap, kasus ini menjadi pembelajaran bagi orangtua untuk membuat anak-anaknya nyaman belajar dirumah, agar bisa terkontrol dengan baik.

” Kami untuk sementara berfungsi sebagai orang tua mereka, supaya bagaimana anak ini kelangsungan sekolahnya, kelangaungan hidupnya disini, anak ini bisa kembali seperti biasanya,”katanya,