Diduga Incar Jabatan, Banyak ASN Terlibat Politik Praktis, Ini Akibatnya

SIDRAP, DJOURNALIST.com – Sejatinya, para Aparatur Sipil Negara (ASN) seluruh Indonesia, tidak seharusnya terlibat dengan urusan politik praktis hal tersebut sudah diatur melalui Peraturan KPU dan Undang-Undang tentang ASN.

Namun hal tersebut, tidak sedikit ASN masih tetap nekad melakukan kegiatan itu dengan tujuan mengincar jabatan, sehingga semua rambu-rambu tentang aturan yang melarang tetap tidak dihiraukan.

Hal itu terungkap pada saat pelaksanaan Sosialisasi pengawasan Pemilu yang dilaksanakan Bawaslu Sidrap, di Ballroom Al Ghony, Hotel Grand Sidny, Pangkajene, Sidrap, Selasa (2/4/2019).

Prof Anwar Borahima, dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar yang bertindak selaku pemateri dihadapan ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemkab Sidrap memaparkan seputar netralitas ASN pada Pemilu secara serentak di seluruh Indonesia.

Ia menjelaskan sejumlah contoh kasus. Pada pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2018 lalu, ada sekitar 12 ASN yang diberhentikan, dan 1 juta lainnya diberikan teguran I dan II di seluruh Indonesia.

“Di Makassar baru-baru ini, kita ketahui ada belasan lagi ASN yang berstatus camat diberikan teguran karena diduga ikut terlibat dalam mengkampanyekan salah satu pasangan Capres-Cawapres,”ujar Prof Anwar

Menurutnya, ASN itu sebenarnya sudah mengetahui bahwa dilarang terlibat dalam pemilu, namun karena adanya tekanan dari atasan atau incar jabatan, terpaksa mereka lakukan itu.

“Mereka sebenarnya menjadi korban atas perintah atasan. Namun ada juga memang karena mereka incar jabatan, jadi dia mengorbankan dirinya, walaupun sudah tahu konsekuensi hukumnya,”jelas Prof Anwar.

Ditegaskannya, seharusnya seorang ASN itu harus memiliki prinsif sendiri, dengan meyakini bahwa kedudukan atau jabatan itu bisa didapat berdasarkan prestasi.

“Harus punya prinsif, kalau memang kita berprestasi, tidak boleh takut, karena sebagai ASN memiliki tugas utama adalah untuk mengabdi, dan jabatan itu hanyalah amanah,” pesannya. (**)