Andi Pahlevi Imbau Kepada Masyarakat Untuk Memilah Sampah yang Bernilai Ekonomi

Sekretariat DPRD Kota Makassar melalui Sub Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) menggelar dialog kemitraan, di Jalan Tinumbu Raya Lorong 144, Kecamatan Bontoala, Makassar, Kamis 31 Oktober 2019

Sekretariat DPRD Kota Makassar melalui Sub Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) menggelar dialog kemitraan, di Jalan Tinumbu Raya Lorong 144, Kecamatan Bontoala, Makassar, Kamis 31 Oktober 2019.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Sekretariat DPRD Kota Makassar melalui Sub Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) menggelar dialog kemitraan, di Jalan Tinumbu Raya Lorong 144, Kecamatan Bontoala, Makassar, Kamis 31 Oktober 2019

Mengangkat tema “Pengelolaan Sampah yang Berwawasan Lingkungan”, menghadirkan narasumber dari Plt Keoala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Iskandar, Anggota Komisi C DPRD Makassar Andi Pahlevi, Akademisi UNM Rusdi, dan dipandu langsung oleh moderator Muhamamd Yusran.

Iskandar mengatakan, pengelolaan sampah dimulai dari sumber, yaitu dari rumah tangga, kantor-kantor, ataupun tempat lainnya. Apalagi, jumlah sampah yang semakin hari semakin membesar tentu akan menjadi masalah serius bagi lingkungan kota.

“Pengelolaan sampah yang tepat sesuai kaidah-kaidah lingkungan sehat perlu dilakukan. Pengelolaan sampah juga membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat baik di lorong-lorong atau di pesisir,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Andi Pahlevi. Legislator Partai Gerindra dua periode itu mengatakan sampah saat ini sangat memungkinkan volume produksinya semakin bertambah di Kota Makassar.

“Sekarang kita harus bisa memilah yang mana bisa kita manfaatkan dan bernilai ekonomi. Jadi kita mulai bisa meninggalkan pola lama dengan membuang langsung di TPA (tempat pembuangan akhir),” kata Pahlevi.

Untuk pengurangan di lingkungan sekitar, Pahlevi menyarankan agar sejak dini sudah mulai melakukan pengelolaan sampah, dengan terus mensosialisasikan ke masyarakat agar tidak lagi menggunakan bahan plastik untuk meminimalisir sampah.

“Itu salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi sampah. Karena paling tidak ada informasi yang kita sampaikan ke masyarakat bahwa persoalan sampah itu seperti ini jangan terlalu sering membuang sampah jangan terlalu sering memproduksi sampah plastik,” jelasnya.

Disamping itu, Akademisi UNM Rusdi menjelaskan Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China dengan jumlah sampah plastik terbesar yang masuk ke laut.

“Kita boleh melihat di Negara Eropa seperti di Swedia, kenapa malah dia mau mengimpor sampah? Nah kenapa ada negara yang ingin mengimpor dibalik yang tak bernilai ini? sebenarnya sampah bisa dibuat sebagai bahan yang bernilai. Sampah plastik itu sebelum kita membuangnya itu bisa bermanfaat baik,” urainya.