Syaharuddin Alrif Sosialisasi Perda Perlindungan Lahan Pertanian di Sidrap

Wakil Ketua DPRD Sulsel, Syaharuddin Alrif melakukan sosialisasi perda terkait perlindungan lahan pertanian dan berkelanjutan di Desa Mattirotasi dan Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Selasa malam, 5 November 2019.

Wakil Ketua DPRD Sulsel, Syaharuddin Alrif melakukan sosialisasi perda terkait perlindungan lahan pertanian dan berkelanjutan di Desa Mattirotasi dan Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Selasa malam, 5 November 2019.

SIDRAP, DJOURNALIST.com – Wakil Ketua DPRD Sulsel, Syaharuddin Alrif melakukan sosialisasi perda terkait perlindungan lahan pertanian dan berkelanjutan di Desa Mattirotasi dan Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Selasa malam, 5 November 2019.

Syaharuddin yang didampingi Anggota Ketua DPRD Sidrap H Ruslan dan Ketua Fraksi DPRD Sidrap Syamsu Marlin serta tokoh masyarakat Wattangpulu.

Sekretaris DPW NasDem Sulawesi Selatan ini sosialisasi peraturan daerah yang telah dirumuskan DPRD Sulawesi selatan wajib disampaikan dihadapan masyarakat

Syahar mengungkapkan, sosialisasi ini menjadi sangat penting untuk diketahui masyarakat, khususnya masyarakat Sidrap karena merupakan daerah lumbung pertanian.

“Pentingnya sosialisasi ini karena kita tahu bersama bahwa Sidrap adalah lumbung pertanian Sulawesi Selatan,” ucap Suami Hj.Haslinda Hasan ini

Dalam sosialisasi ini, masyarakat menjadikannya ajang untuk menyampaikan aspirasi kepada wakil ketua DPRD Sulawesi selatan ini

Pertemuan tersebut sangat dimanfaatkan warga setempat untuk menyampaikan permasalahan yang dialami. ‘Curhat’ pun beragam. Mulai seragam BKMT, bantuan bibit kualitas rendah, hingga kondisi jalan dan jembatan yang rusak.

Warga Mattirotasi yang 60 persen berprofesi sebagai petani mengeluhkan bantuan bibit yang diterima berkualitas rendah.

“Bantuan bibit yang diterima dari pemerintah selama ini tidak berkualitas. Bibit kecil dan merugikan petani karena sering gagal panen,” ujar Jumanir.

Warga Mattirotasi lainnya, Sumiati, juga mengeluhkan harga jagung yang rendah.
Di sisi lain, bibit jagung harganya mahal. Selain di sektor pertanian, warga dua desa itu juga mengeluhkan infrastruktur jalan yang rusak, terutama di Dusun Pabbaresseng dan Kampung Baru.