Pemda Tana Toraja Raih Peringkat 6 Penanganan Stunting

Meskipun Tana Toraja sempat mengalami nilai terendah dalam hal intervensi Stunting tingkat provinsi Sulawesi Selatan, namun hanya dalam tempo empat bulan saja pada tahun 2020, Tana Toraja masuk dalam peringkat enam sangat wajar dalam penanganan angka stunting di daerah wisata tersebut.

Meskipun Tana Toraja sempat mengalami nilai terendah dalam hal intervensi Stunting tingkat provinsi Sulawesi Selatan, namun hanya dalam tempo empat bulan saja pada tahun 2020, Tana Toraja masuk dalam peringkat enam sangat wajar dalam penanganan angka stunting di daerah wisata tersebut.

MAKALE,DJOURNALIST.com  –  Meskipun Tana Toraja sempat mengalami nilai terendah dalam hal intervensi Stunting tingkat provinsi Sulawesi Selatan, namun hanya dalam tempo empat bulan saja pada tahun 2020, Tana Toraja masuk dalam peringkat enam sangat wajar dalam penanganan angka stunting di daerah wisata tersebut.

“Hasil penilaian dari pemerintah provinsi Sulawesi Selatan menempati urutan ke enam sebagai kabupaten berkinerja sangat wajar dalam melakukan intervensi stunting,”ujar Kadis Kesehatan Tana Toraja, dr. Ria Minoholtha Tanggo, Rabu 21 Oktober 2020.

Meskipun suasana masih wabah pandemi covid-19, namun Dinas Kesehatan Tana Toraja tetap menggenjot untuk melakukan intervensi terhadap wilayah yang masuk lokus tahun 2020.

Meski sebenarnya nanti pada tahun 2021, masuk kategori intervensi. “Pemkab Tana Toraja telah mendahului melakukan berbagai intervensi pada tahun 2020 yang sedang berjalan oleh beberapa OPD tekait dan Lembang lokus,” lanjut Ria Minoholtha.

Sejumlah program intervensi untuk menekan angka stuning di lokus 2020 tersebut yakni pemberian PMT pada ibu hamil KEK dan Balita gizi kurang, gizi buruk.

Selain itu Pemda Tana Toraja juga memberikan bibit tanaman holtikultura dan pangan berupa telur, pembangunan jamban pada keluarga sebanyak 1000 PHK sebagai ajaran pencegahan dan penurunan angka stunting.

Terbukti, hanya dalam tempo singkat Pemda Tana Toraja menempati urutan ke enam dalam hal proses percepatan intervensi tersebut.

Sementara itu sekaitan dengan Tana Toraja mendapat penilaian rendah pada tahun 2020, Rio menjelaskan bahwa penilaian yang terintegrasi dengan provinsi Sulawesi Selatan berlangsung di Makassar 06 – 09 Oktober 2020 melalui pameran.

“Penyebab pencapaian nilai yang rendah karena berdasarkan matriks di mana tidak tersedianya rincian kegiatan masing masing desa lokus penanganan stunting. Hal ini disebabkan pelaksanaan aksi I analisa data dilaksanakan akhir Mei 2020 sekaligus penetapan desa lokus.” Jelas dr. Ria.

Selain itu imbuhnya, pada bulan yang sama dimana dilakukan program intervensi lokus stunting sesuai rekomendasi, bersamaan dengan pandemi Covid-19 sehingga pelaksnan kegiatan terbatas pada publikasi/ sosialisasi rembug stunting. “Akhirnya dilakukan secara online” urai dr. Ria.

Maka dari itu pihaknya yakin, pada tahun 2021 nanti hasilnya akan berbeda dan akan maksimal sebab pada semester tiga dan empat tahun ini Pemda Tana Toraja telah melakukan intervensi yang signifikan.

Dilanjutkan nanti pada tahun 2021, adalah intervensi maksimal sehingga hasilnya akan terasa. Sebab pada proses berjalan beberapa bulan yang, Pemda Tana Toraja mendapatkan peringkat enam sebagai kabupaten yang Responnya cepat melakukan intervensi.(Rilis)