Peningkatan Infrastruktur Harus Diimbangi dengan Kecakapan Digital Guru dan Orang Tua

Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 30 Agustus 2021 di Toraja Utara, Sulawesi Selatan. (foto: ist)

Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 30 Agustus 2021 di Toraja Utara, Sulawesi Selatan. (foto: ist)

TORUT, DJOURNALIST.com – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” pada Senin, 30 Agustus 2021 dilaksanakan secara virtual di Toraja Utara, Sulawesi Selatan dengan pembahasan tema “Menjaga Kualitas Belajar dari Rumah”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi.

Program kali ini dipandu oleh Fadel Karnen dan menghadirkan empat orang narasumber, yaitu peneliti sosiologi pendidikan Wakil Bupati Kabupaten Toraja Utara, Frederik Viktor Palimbong; Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Anggi Afriansyah; penulis dan Divisi Informasi Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Tengah, Kartini Nainggolan; dan Presenter TV dan Content Creator, Ayi Dara. Sedangkan moderator yaitu Fadel Karnen selaku Podcaster. Webinar kali ini diikuti oleh 1.204 peserta dari berbagai kalangan umur dan profesi. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden.

Materi pertama dibawakan oleh Frederik Viktor Palimbong yang memaparkan materi bertema “Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital”. Menurut dia, ketersediaan akses internet bagi anak didik di wilayah Toraja Utara masih cukup minim, yakni baru mencapai 40%. Dari 21 kecamatan, baru sekitar tujuh kecamatan yang pemerataan akses serta fasilitas internet terbilang baik, sedangkan sisanya perlu terus ditingkatkan pembangunan infrastruktur digitalnya. “Oleh karena itu, kami sebagai pemerintah daerah harus mengatur sekolah mana yang masih pembelajaran tatap muka dan mana yang secara daring,” jelasnya.

Selanjutnya, Ayi Dara menyampaikan paparan berjudul “Kenali Dampak dan Cara Atasi Cyberbullying pada Anak”. Ia mengatakan, ciri-ciri anak yang mengalami tindakan perundungan, misalnya kehilangan teman atau menghindari ajakan pertemanan, barang miliknya sering hancur atau hilang, terlihat stress saat pulang ke rumah, dan prestasi belajar menurun. Untuk mengatasinya, tanamkan nilai moral sejak dini, ajari anak perbedaan perbuatan baik dan buruk, serta bangun komunikasi efektif agar berani melaporkan ancaman ke guru. “Bagi orang tua, jadilah contoh teladan yang baik bagi anak,” ujar dia.

Pemateri ketiga, Anggi Afriansyah, menyampaikan tema “Kemampuan Literasi Digital sebagai Modalitas Mengarungi Pendidikan di Masa Pandemi”. Menurut dia, tantangan utama metode pembelajaran daring di daerah-daerah, yakni keterbatasan akses internet, kapasitas orang tua dalam pengawasan belajar di rumah, peran sekolah yang kurang maksimal, peran swasta yang justru lebih mendahulukan aspek keekonomian, serta literasi baca tulis sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih kurang. “Literasi digital akan kurang optimal ketika masyarakat juga kurang memiliki literasi baca tulis,” katanya.

Adapun Kartini Nainggolan, sebagai narasumber terakhir, menyampaikan paparan berjudul “Tips Menjaga Keamanan Digital bagi Anak-Anak di Dunia Maya“. Ia mengatakan, orang tua dapat membuat peraturan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan anak dalam menggunakan internet, seperti batasan penggunaan gawai secara daring dan unduh aplikasi tanpa izin serta kebijakan menjaga data pribadi maupun kata sandi akun milik anak. “Aplikasi yang dapat digunakan misalnya Google Family Link yang dapat menyaring pencarian di mesin Google, serta mengatur pembatasan penggunaannya,” imbuhnya.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, moderator melanjutkan kegiatan dengan sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh para peserta. Panitia memberikan uang elektronik senilai masing-masing Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih. Webinar literasi digital ini mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. (**)