Norma sebagai Acuan Berbudaya Digital

Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 20 Agustus 2021 di Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. (foto: ist)

Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 20 Agustus 2021 di Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. (foto: ist)

SULTRA, DJOURNALIST.com – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo kali ini dilaksanakan secara virtual pada 20 Agustus 2021 di Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema yang dibahas adalah “Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial”.

Program kali ini dipandu oleh Heri Susanto sebagai moderator dan menghadirkan empat narasumber, yaitu Kepala Laboratorium Pendidikan Teknologi Universitas Negeri Makassar dan pegiat Japelidi, Citra Rosalyn Anwar; podcaster sekaligus CEO @dutabatikpalu, Zakiyah Ramayanih; Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Herawati; serta Regional Editor IDN Times Sulawesi Selatan, Irwan Idris. Kegiatan pada kali ini diikuti oleh 763 peserta dari berbagai kalangan umur dan profesi. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden.

Pemateri pertama, Citra Rosalyn Anwar, membawakan tema “Cakap dan Cakep Bermedia Sosial”. Citra menekankan pentingnya cakap bermedia digital. Bahkan bagi kelompok khusus atau rentan seperti lansia, anak/remaja, dan perempuan, kecakapan ini sama pentingnya untuk dimiliki.

Berikutnya, Zakiyah Ramayanih menyampaikan materi berjudul “Bebas Namun Terbatas: Berekspresi di Media Sosial”. Menurut dia, etika berjejaring itu penting agar pengguna tidak melanggar hukum, serta tidak merugikan diri sendiri.

Sebagai pemateri ketiga Herawati, membawakan tema tentang “Budaya Digital: Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar”. Menurut dia, di dunia digital, perlu kiranya memahami dan menggunakan bahasa yang baik dan benar demi menghindari kesalahan informasi dan rusaknya situasi informasi. “Bahasa adalah cermin kepribadian,” pesan Herawati.

Adapun Irwan Idris sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema mengenai “Panduan untuk Kenali dan Pahami Rekam Jejak di Era Digital”. Irwan mengatakan, jejak digital negatif bisa berbahaya bagi karier profesional di masa depan. “Jaga jejak digital agar positif, caranya: hindari menyebar data penting, perkuat kata sandi, jangan kirim sesuatu yang sifatnya terlalu personal, cari namamu sendiri di Google, dan hapus informasi tidak penting,” tegas Irwan.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, moderator melanjutkan kegiatan dengan sesi tanya jawab yang disambut meriah oleh para peserta. Panitia memberikan uang elektronik senilai masing-masing Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih. Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi.

“Bagaimana mewujudkan budaya digital sedangkan budaya masyarakat di tiap daerah itu berbeda?” tanya Salahuddin, salah satu peserta webinar. Herawati menyampaikan, budaya daerah dan budaya digital adalah dua konsep yang berbeda. “Budaya yang terkait dengan etnisitas atau kesukuan memang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Namun, budaya digital yang dimaksud adalah budaya teks yang berkesinambungan dan bersifat umum, misalnya mengedepankan etika kebhinekaan, saling menghargai, dan menghormati,” tutur Herawati. (**)