Hargai Keberagaman, Sebarkan Pesan Positif di Media Sosial

Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 24 Agustus 2021 di Makassar, Sulawesi Selatan. (foto: ist)

Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 24 Agustus 2021 di Makassar, Sulawesi Selatan. (foto: ist)

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, kembali dilaksanakan secara virtual pada 24 Agustus 2021 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Kegiatan dengan tema “Mengenalkan Budaya Indonesia Melalui Literasi Digital” ini diikuti oleh 651 peserta dari berbagai kalangan umur dan profesi.

Program kali ini menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari pegiat Japelidi, Anna Agustina; praktisi Teknologi Informasi, Tony Seno Hartono; Komunitas Gusdurian Makassar, Andi Ilham Badawi; dan pemengaruh (influencer), Wiwied Wahida. Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Jihan selaku Communication Specialist. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 orang peserta.

Acara dimulai dengan sambutan video Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden.

Pemateri pertama adalah Anna Agustina yang membawakan tema “Menyambut Generasi Alpha, Peluang dan Tantangan Keterampilan Digital”. Anna mengungkapkan, banyak aplikasi gratis di internet yang bisa diunduh untuk meningkatkan kecakapan digital. “Tetap berpikir positif dan selalu kritis dalam menerima informasi yang diterima. Jangan langsung disebarkan, sebaiknya pahami dulu,” sarannya.

Berikutnya, Wiwied Wahida menyampaikan materi berjudul “Hate Speech, Identifikasi Konten dan Regulasi yang Berlaku”. Dia mengatakan, ujaran kebencian didasarkan pada konten menyerang, membenci, sehingga menimbulkan dampak tertentu. “Setiap perilaku ujaran kebencian bisa dilaporkan ke pihak berwenang sesuai peraturan di Indonesia,” ucapnya.

Sebagai pemateri ketiga, Andi Ilham Badawi membawakan tema “Mengenalkan Budaya Indonesia Melalui Literasi Digital”. Menurut dia, ragam media sosial bisa digunakan untuk menyebarkan pesan positif. Pendistribusian banyak pesan positif membuat media sosial ramah untuk diri sendiri, keluarga, hingga anak-anak di masa mendatang. “Jadilah warga negara digital yang Pancasilais dengan menghargai keberagaman dan keadilan sosial di Indonesia,” katanya.

Tony Seno Hartono, sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema “Keamanan Jejak Digital”. Dia mengatakan, dalam beraktivitas di dunia maya hendaknya menerapkan sopan santun dalam kondisi apapun. “Be yourself, tapi representasikan diri kita yang terbaik,” paparnya.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Terlihat antusiasme dari para peserta yang mengirimkan banyak pertanyaan kepada para narasumber. Panitia memberikan uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih. Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi.

“Apa saja contoh partisipasi yang bisa dilakukan anak muda dalam mengenalkan budaya Indonesia di tengah situasi pandemi?” tanya Ananda Jasmin, salah satu peserta kegiatan Literasi Digital. Andi Ilham Badawi menyarankan untuk mengasah kemampuan yang dimiliki seperti menulis, ilustrasi, fotografi, maupun video untuk mengkampanyekan kebudayaan. “Platform media sosial mendukung untuk memperluas jangkauan penonton. Selain itu, seni budaya sering digunakan sebagai pendekatan promosi toleransi dan kerukunan di daerah,” tuturnya. (**)