#Selamtkankampung, Akademisi: Berbasis Realitas

Akademisi Bachrianto.

Akademisi Bachrianto.

MASAMBA,DJOURNALIST.com – Jargon dan gerakan selamatkan kampung semakin masif bermunculan di Kabupaten Luwu Utara (Lutra). Bahkan, juga muncul tagar #SelamatkanKampung di media sosial, yang ramai menjadi pembahasan, baik di dunia maya maupun di warung kopi.

Akademisi sekaligus Pegiat Pembangunan Sosial Kemasyarakatan asal Sulawesi Selatan, Bachrianto, menyampaikan munculnya jargon maupun gerakan selamat kampung harus disikapi dengan bijak oleh pemerintah daerah. Harus melihat masalah utamanya dan mencari solusi demi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Bachrianto berpendapat jargon dan gerakan selamatkan kampung tidak muncul begitu saja. Ia melihatnya sebagai bentuk kritik berbasis realitas yang dirasakan oleh masyarakat. Olehnya itu, publik menyuarakan agar ada gerakan selamatkan kampung.

“Jargon selamatkan kampung itu adalah term dari warga yang lahir karena realitas yang mereka rasakan di Lutra. Harusnya disikapi secara arif lewat kerja oleh pemerintah,” kata Bachrianto, yang juga tokoh Luwu Raya ini, Senin malam, 25 Oktober 2021.

Lebih jauh, dia menganalisa paling tidak ada dua alasan, mengapa publik menyuarakan jargon selamatkan kampung.

Pertama, kondisi Lutra yang disebut sebagai daerah termiskin ketiga di Sulsel, bahkan sebelum bencana banjir bandang terjadi pada pertengahan 2020.

Jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lutra tidak bergerak cepat menuntaskan pemulihan ekonomi dan pimpinannya malah sibuk mengurusi politik, ia khawatir angka kemiskinan Lutra bakal semakin terpuruk. Diketahui, meski tren angka kemiskinan Lutra terus menurun, tapi secara jumlah masih terbilang tinggi.

“Jika ini terjadi, cukup disayangkan. Apalagi, ada pembanding pemerintahan sekarang dengan masa kejayaan Lutra di tangan Bupati Lutfi A Mufti,” ungkap dosen Institut Teknologi dan Bisnis Maritim (ITBM) Balik Diwa Makassar ini.

Kedua, jargon selamatkan kampung bisa jadi juga muncul karena masyarakat Lutra, khususnya yang berada di perkampungan memang dalam kondisi terancam keselamatan nyawanya. Terkhusus masyarakat yang tinggal di kampung-kampung yang dilalui Sungai Masamba, Sungai Rongkong dan Sungai Radda.

Menurut dia, sudah bukan rahasia lagi bahwa setiap hujan terjadi, keselamatan nyawa mereka terancam. Musababnya, normalisasi sungai belum juga rampung sepenuhnya. Bahkan, ada yang kedalamannya sempat tinggal selutut orang dewasa, setelah tertimbun longsor saat bencana alam lalu.

“Jadi, ketika masyarakat yang merasa terancam nyawanya di sepanjang pesisir sungai itu memohon tindakan nyata pemkab, lalu tidak mereka dapatkan, maka wajar saja jika mereka kemudian kehilangan harapan pada pemerintah.”

“Tidak bisa disalahkan juga jika mereka akhirnya tergerak mencari figur pemimpin yang mereka anggap bisa memberi harapan menyelamatkan mereka,” sambung Bachrianto.